Breaking News

Dulu Gratis, Sekarang Serba Bayar: Saatnya Daerah Punya Aplikasi Sendiri

 

Dulu Gratis, Sekarang Serba Bayar: Saatnya Daerah Punya Aplikasi Sendiri

Masih ingat masa-masa awal toko online dan aplikasi ojek dulu? Semuanya gratis. Ongkir disubsidi, promo di mana-mana, jualan tanpa potongan. Kita semua senang, kita semua ikut.

Tapi coba lihat sekarang.

Mau jualan? Kena biaya admin. Mau produkmu kelihatan pembeli? Bayar iklan. Mau dapat orderan lebih banyak? Ikut program berbayar lagi. Potongan sana, potongan sini — yang tadinya "membantu UMKM" pelan-pelan berubah jadi mesin yang menyedot untung pedagang kecil.

Itu bukan salah siapa-siapa. Memang begitu cara kerja bisnis besar: bakar uang di awal untuk kuasai pasar, lalu panen setelah semua orang bergantung.

Pertanyaannya: sampai kapan kita cuma jadi ladang panen?

Uangnya Muter ke Mana?

Setiap kali kita belanja di platform raksasa, potongan dan komisinya mengalir ke luar — ke kantor pusat di kota besar, ke investor, bahkan ke luar negeri. Warung tetangga dapat sisa-sisanya.

Padahal pedagangnya orang sini. Pembelinya orang sini. Yang antar juga orang sini. Tapi yang paling untung? Bukan orang sini.

Anak Muda Kita Pergi Satu-Satu

Lihat kanan-kiri. Berapa banyak tetangga kita yang merantau? Ke Surabaya, ke Jakarta, ke Bali, bahkan ke luar negeri — bukan karena ingin, tapi karena di kampung sendiri tidak ada jalan.

Anak-anak muda daerah itu pintar, kuat, dan mau kerja keras. Yang mereka butuhkan cuma satu: kesempatan. Sayangnya, kesempatan itu jarang dibangun di daerah. Semua terpusat di kota besar, dan generasi muda daerah seolah tak pernah masuk hitungan.

Kalau kita terus menunggu, jangan heran kalau desa dan kota kecil kita makin sepi — yang tersisa hanya orang tua dan cerita tentang anak-anaknya yang sukses "di luar".

Zasha: Jawaban Kecil dari Daerah Sendiri

Zasha (zasha.online) lahir dari keresahan itu. Bukan aplikasi raksasa, bukan buatan kota besar — tapi dibangun oleh anak daerah, untuk warga Jember, Tanggul, dan sekitarnya.

Prinsipnya sederhana:

Rezeki lokal, muter di lokal. Yang jualan warga sini, yang antar warga sini, yang beli warga sini. Uang tidak lari ke mana-mana — dia berputar di lingkungan kita sendiri, menghidupi tetangga kita sendiri.

Harga bukan keputusan mesin. Di Zasha, pelanggan pasang budget, mitra menawar, dan keduanya sepakat. Tidak ada algoritma yang memaksa, tidak ada tarif sepihak.

Kesempatan tanpa harus merantau. Punya motor dan waktu luang? Jadi mitra. Punya masakan enak atau barang dagangan? Buka toko jastip. Semua bisa dimulai dari rumah sendiri, tanpa harus meninggalkan keluarga.

Ini Bukan Sekadar Aplikasi

Zasha mungkin kecil. Tapi setiap transaksi di dalamnya adalah pernyataan: bahwa daerah bisa mandiri, bahwa anak muda tidak harus pergi untuk berdaya, dan bahwa teknologi seharusnya melayani warga — bukan memeras mereka.

Perubahan besar tidak selalu datang dari gedung tinggi. Kadang dia dimulai dari satu titipan belanja, satu antaran, satu tetangga yang membantu tetangga lainnya.

Kunjungi zasha.online. Mulai dari sini, untuk kita sendiri.

Zasha — Zona, Agregator, Share. Dari warga, untuk warga.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close